Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Oktober 2012

Bookmark the permalink. SEKILAS INFO UNIVERSITAS ISLAM INDRAGIRI (UNISI)

Masyarakat dan warga Indragiri Hilir boleh berbangga hati sebab di Indragiri Hilir bumi Sri Gemilang saat ini telah hadir sebuah lembaga pendidikan tinggi setingkat Universitas, Universitas Islam Indragiri namanya dan disingkat dengan UNISI. Hadirnya UNISI adalah bukti kepedulian pada pendidikan dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia di Indragiri Hilir yang telah ditunjukan oleh pemerintah daerah dan para pendiri serta pencetus Unisi. Kehadiran Lembaga Pendidikan tinggi memang sudah semestinya ada di Indragiri Hilir dalam rangka menyongsong perkembangan daerah Indragiri Hilir yang semakin hari semakin memerlukan insan-insan yang berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi , bernas serta beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk menopang pembangunan Kabupaten Indragiri Hilir yang terasa masih tertinggal dari daerah-daerah lain di Indonesia, disamping Indragiri Hilir adalah daerah yang strategis dan mempunyai potensi untuk dikembangkan serta dekat dengan Negara tetangga Singapura dan Malaysia.
Universitas Islam Indragiri (UNISI) adalah universitas hasil penggabungan STIE Sri Gemilang Tembilahan dengan Politeknik Pertanian Tembilahan. Unisi didirikan oleh Yayasan Tasik Gemilang pada tahun 2008 di bawah koordinasi dan pengawasan pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir, yang dimaksudkan sebagai realisasi program pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Setakat ini berdasarkan brosur penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2008/2009 pendirian Universitas Islam Indragiri (UNISI) hadir mempunyai tujuan antara lain :
1. Menyelenggarakan pendidikan berstandar akreditasi untuk semua program studi (Prodi)
2. Terbentuknya budaya meneliti civitas akademika dan publikasi ilmiah yang terakreditasi
3. Terselenggaranya pengabdian kepada masyarakat berbasis hasil penelitian
4. Terampingkannya program-program studi yang tidak dapat mencapai standar penyelenggaraan pendidikan tinggi
5. Mengurangi beban biaya yang memberatkan penyelenggaraan dharma
6. Mengembangkan kerjasama dengan para pihak yang relevan
7. Mengembangkan pelayanan bagi stake holder
Sedangkan Visi dan Misi didirikannya Universitas Islam Indragiri (UNISI) adalah :
Visi : Mewujudkan sumber daya manusia yang berbasis ekonomi dalam mengembangkan potensi sumber daya alam Indragiri Hilir tahun 2010
Misi :
1. Mendorong, mengembangkan pembangunan daerah agar tetap menjadi kegiatan ekonomi yang berbasis ekonomi kerakyatan di Kabupaten Indragiri Hilir.
2. Menciptakan sumber daya manusia yang handal, kreatif, inovatif, dan mampu mengantisipasi persaingan global berbasis IMTAQ dan menguasai IPTEK di Indragiri Hilir.
3. Melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir

FAKULTAS DAN PROGRAM PENDIDIKAN
Pada semester ganjil Tahun Akademik 2008/2009 Unisi membuka 4 (empat) Fakultas yang terdiri dari :
1. FAKULTAS EKONOMI yang terdiri dari 3 (tiga) program studi
a. Program studi Manajemen (S1)
b. Program studi Akuntansi (S1)
c. Program Studi Akuntasi (D3)
2. FAKULTAS HUKUM yang terdiri dari 1 (satu) program studi
a. Program studi Ilmu-Ilmu Hukum (S1)
3. FAKULTAS PERTANIAN, yang terdiri atas 7 (tujuh) program studi
a. Program studi Agribisnis (S1)
b. Program studi Ilmu & Teknologi Pangan (S1)
c. Program studi Manajemen dan Budidaya Perairan (S1)
d. Program studi Agroteknologi (S1)
e. Program studi Budidaya Tanaman Perkebunan (D3)
f. Program studi Budidaya Perikanan (D3)
g. Program studi Teknologi Hasil Pertanian (D3)
4. FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER yang terdiri dari 3 (tiga) program studi
a. Program studi Teknik Sipil (S1)
b. Program studi Teknik Industri (S1)
c. Program studi Sistem Informasi / Komputer (S1)
5. FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN yang terdiri dari 2 (dua) program studi
a. Program studi Bahasa Inggris (S1)
b. Program studi Olahraga/Penjaskes (S1)
BEASISWA
Universitas Islam Indragiri (UNISI) menyediakan beasiswa bagi mahasiswa yang memenuhi syarat-syarat tertentu, beasiswa tersebut antara lain adalah :
1. Beasiswa yang bersumber dari dana abadi yang telah disediakan oleh pemda khusus untuk UNISI
2. Beasiswa Bantuan Mahasiswa (BBM) dari Kopertis X bagi mahasiswa yang kurang mampu
3. Beasiswa Tunjangan Potensi Akademik (TPA) dari Kopertis X bagi mahasiswa yang berprestasi.
FASILITAS KAMPUS DAN PERKULIAHAN
Untuk sementara pada semester I Tahun Akademik 2008/2009 kegiatan perkuliahan Fakultas Ekonomi dan Hukum di kampus I jalan R.Soebrantas Tembilahan, sedangkan perkuliahan Fakultas Pertanian dan Teknik & ilmu Komputer di Kampus II jalan Propinsi parit 1 Tembilahan. Pada semester II Tahun Akademik 2008/2009 akan digunakan eks gedung DPRD sebagai rektorat dan kegiatan perkuliahan Fakultas Hukum, Teknik & ilmu Komputer. Sedangkan Fasilitas pendukung Perkuliahan yang ada di UNISI saat ini terdiri dari , Workshop Pertanian, Laboratorium Dasar, Laboratorium Terapan, Kebun Percobaan, Kebun Produksi, Kolam Praktikum, Laboratorium Akuntansi, Internet, Sarana Olahraga, kantin, Koperasi. Selain itu UNISI dibawah pimpinan seorang Rektor anak jati Indragiri Hilir Prof. Dr. H. Sufian Hamim, SH. MH. M.Si, juga memiliki staf Pengajar / Dosen yang berlatar belakang pendidikan S1 sampai jenjang S2 baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Waktu perkuliahan dilaksanakan pada pagi, sore, dan malam hari, sehingga mahasiswa yang sudah bekerja masih ada kesempatan kuliah sesuai dengan jadwal yang diinginkan, mahasiswa yang ingin kelas reguler eksekutif mendaftarkan diri setelah dinyatakan diterima.
Selaku warga dan masyarakat Indragiri Hilir saya mengajak dan menghimbau mari kita dukung dan kembangkan UNISI sebagai asset dan investasi berharga sehingga menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas sehingga diakui dan mampu mencetak SDM Indragiri Hilir khususnya, Riau dan Indonesia umumnya yang berkualitas serta menguasai IPTEK yang berwawasan IMTAQ. Wallahu’alam.

Asal Usul Gelar Andi Pada suku Bugis

hay sob ini ada sedikit artikel yang saya posting tetang sejarah Asal Usul Gelar Andi Pada Bangsawan Bugis.......
mungkin temen-temen masih ada yang kurang tau tetang gelar andi pada orang bugis,, nah ,umgkim temen-temen pada mau tau semua, baca aja / di copy di blog ailinkboiys.blogspot.com mungkin bisa bermanfaat .......

=====================================
Asal-usul gelar andi yang disematkan di depan nama bangsawan bugis memang menjadi pertanyaan banyak orang. Bermacam-macam pendapat dari para sejarawan ataupun cerita orang-orang tua dulu tentang awal mula munculnya gelar andi di dalam masyarakat bugis, namun belum ada yang dapat menunjukkan bukti atau sumber yang benar-benar dapat dijadikan rujukan mutlak.Dari beberapa sumber yang kami dapatkan, maka dapat diuraikan secara singkat tentang penggunaan nama Andi sebagai gelar yang digunakan para bangsawan Bugis.
Sebutan “Andi” adalah sebutan alur kebangsawanan yang diwariskan hasil genetis (keturunan) Lapatau, pasca Bugis merdeka dari orang Gowa.” Andi” ini dimulai ketika 24 Januari 1713 dipakai sebagai extention untuk semua keturunan hasil perkawinan Lapatau dengan putri Raja Bone sejati, Lapatau dengan putri Raja Luwu (yang bersekutu dengan kerajaan Gowa), Lapatau dengan putri raja Wajo (yang bersekutu dengan kerajaan Gowa), Lapatau dengan putri Sultan Hasanuddin (Sombayya Gowa), Anak dan cucu Lapatau dengan putri Raja Suppa dan Tiroang. Anak dan cucu Lapatau dengan putri raja sejumlah kerajaan kecil yang berdaulat di Celebes.
Perkawinan tersebut sebagai upaya VOC untuk membangun dan mengendalikan sosiologi baru di Celebes. Dan dengan alasan ini pula maka semua bangsawan laki-laki yang potensial pasca perjanjian bungaya, yang extrim dikejar sampai ke pelosok nusantara dan yang softly diminta tinggalkan bumi sawerigading (Celebes).
Siapa yang pungkiri kalau (Alm) Jendral Muhammad Yusuf adalah bangsawan Bugis, tetapi beliau enggan memakai produk exlusivisme buatan VOC. Beliau sejatinya orang Bugis genetis sang Sawerigading. Siapa pula yang pungkiri bahwa Yusuf Kalla adalah bangsawan Bugis tetapi beliau tidak memakai gelar “Andi” karena bukan keturunan langsung Lapatau.
Dalam versi lain, walaupun kebenaraannya masih dipertanyakaan selain karena belum ditemukan catatan secara tertulis dalam “Lontara” tetapi ada baiknya juga dipaparkan sebagai salah satu referensi penggunaan nama “Andi” tersebut. Di era pemerintahan La Pawawoi Karaeng Sigeri hubungan Bone dan VOC penuh dengan ketegangan dan berakhir dengan istilah “Rompana Bone“. Dalam menghadapi Belanda dibentuklah pasukan khas yaitu pasukan “Anre Guru Ana’ Karung” yang di pimpin sendiri Petta Ponggawae. Dalam pasukan tersebut tidak di batasi hanya kepada anak-anak Arung (bangsawan) saja tetapi juga kepada anak-anak muda tanggung yang orangtuanya mempunyai kedudukan di daerah masing-masing seperti anak pabbicara’e, salewatang dan lain-lain, bahkan ada dari masyarakat to meredaka. Mereka mempunyai ilmu sebagai “Bakka Lolo dan Manu Ketti-ketti“. Anggota pasukan tersebut disapa dengan gelaran “Andi” sebagai keluarga muda angkat Raja Bone yang rela mati demipatettong’ngi alebbirenna Puanna (menegakkan kehormatan rajanya).
Menurut cerita orang-orang tua Bone, Petta Imam Poke saat menerima tamu yang mamakai gelaran “Andi” atau “Petta” dari daerah khusus Bone maka yang pertama ditanyakan “Nigatu Wija idi’ Baco/Baso? (anda keturunan siapa Baso/Baco?). Baso/Baco adalah sapaan untuk anak laki-laki. Jika mereka menjawab “Iyye, iyya atanna Petta Pole (saya adalah hambanya Petta Pole)”, maka Petta Imam Poke mengatakan “Koki tudang ana baco/baso” (duduklah disamping saya) sambil menunjukkan dekat tempat duduknya, maka nyatalah bahwa “Andi” mereka pakai memang keturunan bangsawan pattola, cera dan rajeng, tetapi kalau jawaban Petta mengatakan “oohh, enreki mai ana baco” sambil menunjukkan tempat duduk di ruang tamu maka nyatalah “Andi” mereka pakai karena geleran bagi anak ponggawa kampong(panglima) atau ana to maredeka yang pernah ikut dalam pasukan khas tersebut.
Dalam versi yang hampir sama, gelar “Andi” pertama kali digunakan oleh Raja Bone ke-30 dan ke-32 La Mappanyukki, beliau adalah Putra Raja Gowa dan Putri Raja Bone. Gelar itu disematkan didepan nama beliau pada Tahun 1930 atas Pengaruh Belanda. Gelar Andi tersebut bertujuan untuk menandai Bangsawan-bangsawan yang berada dipihak Belanda, dan ketika melihat berbagai keuntungan dan kemudahan yang diperoleh bagi Bangsawan yang memakai gelar “Andi” didepan namanya, akhirnya setahun kemudian secara serentak seluruh Raja-Raja yang berada di Sulawesi Selatan menggunakan Gelar tersebut didepan namanya masing-masing.Kelihatannya kita harus membuka lontara antara era pemerintahan La Tenri Tatta Petta To Ri Sompa’e sampai La Mappanyukki khususnya versi Bone karena era itulah terjadi jalinan kerja sama maupun perseteruan antara Raja-Raja di celebes dengan VOC, selain itu orang yang bersangkutan menyaksikan awal penggunaan secara meluas bagi Ana’ Arung juga semakin sukar dicari alias sudah banyak yang berpulang ke Rahmatullah, salah satu pakar yang begitu arif tentang masalah ini adalah Almahrum Tau Ri Passalama’e Anre Gurutta H.A.Poke Ibni Mappabengga (Mantan imam besar mesjid Raya Bone)…
Gelar Andi, menurut Susan Millar dalam bukunya ‘Bugis Weddings’ (telah diterbitkan oleh Ininnawa berjudul (Perkawinan Bugis) disinggung bagaimana proses lahirnya gelar Andi itu. Memang, seperti yang disinggung di atas, saat itu Pemerintah Belanda di tahun 1910-1920an ingin memperbaiki hubungan dengan para bangsawan Bugis dengan membebaskan keturunan bangsawan dari kerja paksa. Saat itu muncul masalah bagaimana menentukan seorang berdarah bangsawan atau tidak. Akibatnya, berbondong-bondonglah warga mendatangi raja dan menegosiasikan diri mereka untuk diakui sebagai bangsawan, karena rumitnya proses itu maka dibuatlah sebuah gelar baru untuk menentukan kebangsawanan seseorang dengan derajat yang lebih rendah. di pakailah kata Andi untuk menunjukkan kebangsawanan seseorang dalam bentuk sertifikat (mungkin sejenis sertifikat yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah lulus dalam kursus montir mobil atau sejenisnya).
Penggunaan Andi saat itu juga beragam di setiap kerajaan. Soppeng misalnya hanya menetapkan bahwa gelar Andi adalah bangsawan pada derajat keturunan ketiga, sementara Wajo dan Bone hingga keturunan ketujuh.
Dari sumber berikutnya dapat kami uraikan sebagai berikut. Gelar Kebangsawanan “Datu” adalah gelar yang sudah ada sejak adanya kerajaan Bugis, di Luwu misalnya, semua raja bergelar Datu, dan Datu yang berprestasi bergelar Pajung, jadi tidak semua yang bergelar Datu disebung Pajung. Sama halnya di Bone, semua raja bergelar Arung, tapi tidak semua Arung bergelar Mangkau, hanya arung yang berprestasi bergelar Mangkau. Begitu juga di Makassar atau Gowa, semua bangsawan atau raja-raja bergelar Karaeng, hanya yang menjadi raja di Gowa yang bergelar Sombaiya.
Gelar kebangsawanan lainnya, mengikut kepada pemerintahan atau panggaderen di bawahnya, seperti Sulewatang, Arung, Petta, dan lain-lain. Jadi gelar itu mengikut terhadap jabatan yang didudukinya. Sementara untuk keturunannya yang membuktikan sebagai keturunan bangsawan, di Makassar dipanggil Karaeng. sedang di Bugis dipanggil Puang, dan di Luwu dipanggil Opu.Adapun gelar Andi, pertama-tama yang menggunakannya adalah Andi Mattalatta untuk membedakan antara pelajar dari turunan bangsawan dan rakyat biasa. Dan gelar Andi inilah yang diikuti oleh turunan bangsawan Luwu, dan Makassar. Jadi di zaman Andi Mattalattalah gelar ini muncul.
Gelar “Andi” baru ada setelah era Pemerintah Kolonial Belanda (PKB). Setelah 1905, Sulawesi Selatan benar-benar ditaklukkan Belanda dan terjadi kekosongan kepemimpinan lokal. Tahun 1920-1930an PKB mencanangkan membentuk Zelf Beestuur (Pemerintah Pribumi/Swapraja) yang dibawahi oleh Controleur (Pejabat Belanda) untuk Onder Afdeling. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, jika memang Andi diidentikan dengan Belanda, mengapa pejuang kemerdekaan (Datu Luwu Andi Jemma, Arumpone, Andi Mappanyukki, Ranreng Tuwa Wajo Andi Ninnong) tetap memakai gelar Andi didepan namanya sementara mereka justru menolak dijajah? tapi juga harus diakui bahwa ada juga yang berinisial Andi yang tunduk patuh pada PKB. Nah ini yang kita harus bijak menilai antara gelar dan pilihan personal terhadap kemerdekaan/penjajahan.
Secara umum Bangsawan Bugis berasal dari pemimpin-pemimpin anang/kampung/wanua sebelum datangnya To Manurung/To Tompo. Pimpinan-pimpinan kampung ini yang selanjutnya disebut kalula/arung dengan nama alias/gelar berbeda-beda yang disesuaikan dengan nama kampung/kondisi/perilaku bersangkutan yang dia peroleh melalui pengangkatan/pelantikan oleh sekelompok anang/masyarakat maupun secara kekerasan (peperangan bersenjata) yang selanjutnya diwariskan secara turun-temurun kepada ahli warisnya, kecuali jika dikemudian hari ternyata dia ditaklukkan dan diganti oleh penguasa yang lebih tinggi/kuat.
Sedangkan To Manurung dan To Tompo yang, ‘asal usul’ dan ‘namanya’ kadang-kadang tidak diketahui dan segala kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan yang dimilikinya, oleh sekelompok pimpinan kalula/arung/matoa sepakat untuk mengangkatnya menjadi ketua kelompok dikalangan kalula/arung yang selanjutnya menjadi penguasa/raja yang berarti pula pondasi dasar sebuah kerajaan/negara telah terbentuk –dimana tanah/wilayah, pemimpin/penguasa dan pengakuan dari segenap rakyat sudah terpenuhi.
Penguasa/Raja biasanya kawin dengan sesama To Manurung/To Tompo [jika dia 'ada'/muncul tanpa didampingi pasangannya] dan pada tahap awal cenderung mengawinkan anak-anaknya dengan bangsawan lokal yang sudah ada sebelumnya. Ketika kerajaan-kerajaan kecil tadi dalam perkembangannya menjadi kerajaan besar, barulah perkawainan anak antar-kerajaan mulai diterapkan oleh Arung Palakka
FATIMAH BANRI (WE BANRI GAU)
(1871 – 1895)
We Fatimah Banri atau We Banri Gau Arung Timurung menggantikan ayahnya Singkeru’ Rukka Arung Palakka menjadi Mangkau’ di Bone. Dalam khutbah Jumat namanya disebut sebagai Sultanah Fatimah dan digelarlah We Fatimah Banri Datu Citta. Pada tahun 1879 M. kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Magguliga Andi Bangkung Karaeng Popo, anak dari We Pada Daeng Malele Arung Berru dengan suaminya I Malingkaang KaraengE ri Gowa.
Yang menjadi tanda tanya adalah :

  1. Apakah sebelum La Magguliga Andi Bangkung Karaeng Popo masih ada juga yang menggunakan nama/gelar itu sebelumnya?
  2. Mengapa kata ‘Andi’ yg digunakan/disepakati sebagai penandaan gelar bagi kaum bangsawan Sulawesi Selatan pada saat itu sampai dengan sekarang? Kenapa bukan Karaeng atau Raden atau Uwak atau dan lain-lain?
Urgensi tata cara pandangan dalam asal-usul Andi itu sebenarnya karena tata cara pandang tergantung nara sumber data yang dimilki.
Perbedaan dapat kita lihat sebagai berikut yaitu :
Apabila yg memakai data dari sytem pemerintahan yang pada proses pendudukan Belanda mungkin ada benarnya bahwa Andi adalah pemberian Belanda, tapi ini akan menimbulkan pertanyaan yaitu : Apakah pemberian nama Andi dimana posisi bangsawan saat itu gampang dan mudah melihat yang mana pro dan anti terhadap Belanda karena baik pro dan anti Belanda semuanya menyandang gelar itu?, lalu apakah contoh yang paling mudah ketika Andi Mappanyukki sebagai tokoh yg mempopulerkan nama Andi merupakan orang anti Belanda?
Dari pertanyaan diatas dapat disimpulkan sementara bahwa kata asal-usul nama Andi adalah pemberian Belanda telah gugur.
Apabila data yang mengacu karena istilah penghormatan dari masyarakat luar Bugis atau akhirnya digunakan oleh Belanda terhadap bangsawan Bugis dianggap karena sama sederajat juga ada benarnya dimana yang dulunya istilah Adik adalah Andri menjadi Andi itu sangat relevan karena contoh sangat konkrit adalah sosok Andi Mappanyukki pada sejarah Kronik Van Paser yang namanya disebut hanya La Mappanyukki saja, namun karena banyaknya tetua Bangsawan Wajo hidup di Paser saat itu hingga mengatakan Andri sehingga masyarakat suku-suku Paser, Kutai dayak hingga Banjar sulit menyebutkan dan menyebabkan penyebutan menjadi Andi saja, hal yang sama ketika salah satu Ibukota Kerajan Kutai diberikan nama oleh masyarakat Bugis yang bernama Tangga Arung namun sulit penyebutannya oleh masyarakat setempat menjadi Tenggarong.
Ini juga menjadi data akurat bahwa nama Andi adalah aktualisasi perubahan dari Andri yang tidak bisa diucapkan dan akhrinya masuk ke wilayah orang Belanda dimana orang-orang bule baik Belanda, Portugis hingga Inggris sulit menyebut huruf “R”.
Data yg paling cukup kuat adalah bila suatu kampung (Wanua, Limpo) yang hampir seluruhnya didiami oleh keturunan bangsawan dimana semuanya sejajar ketika dikampung mereka hanya disebut La Nu dan hanya namanya La Nu tapi pada saat dia keluar secara otomatis masyarakat luar melekatkan nama Andi didepannya.menajdi Andi Nu (sebenarnya banyak tokoh di abad ke 18 telah diberi nama Andi sebelum Andi Mappanyukki).
Dari beberapa uraian yang dipaparkan di atas mungkin sulit untuk mengambil kesimpulan asal-usul gelar “Andi” bagi bangsawan bugis, namun yang terpenting adalah dengan membaca beberapa referensi setidaknya kita dapat menambah wawasan kita tentang sejarah Bugis.

=========================================================================

Dari beberapa uraian yang dipaparkan di atas mungkin sulit untuk mengambil kesimpulan asal-usul gelar “Andi” bagi bangsawan bugis, namun yang terpenting adalah dengan membaca beberapa referensi setidaknya kita dapat menambah wawasan kita tentang sejarah Bugis.

LINTASAN SEJARAH IKAMI SUL SEL DARI MASA KE MASA

hay sob ini ada sedikit artikel yang saya posting tetang sejarah ikami sulsel dari masa kemasa.......
mungkin temen-temen masih ada yang kurang tau tetang terbentuknya organisasi IKAMI SUL-SEL,,, nah biar temen-temen pada tau semua, baca aja / di copy di blog ailinkboiys.blogspot.com mungkin bisa bermanfaat ........

===========================================
Sebelum terbentuknya IKAMI SUL SEL, para Mahasiswa dan Pelajar asal Sulawesi Selatan yang menuntut ilmu di perantauan, telah membentuk organisasi pemuda / pelajar /mahasiswa dengan berbagai bentuk, nama, sifat dan tujuan operasional. Suatu hal yang menarik, di wilayah Propinsi Sulawesi Selatan sendiri IKAMI SUL SEL tidak di jumpai. Yang ada adalah organisasi pemuda / pelajar / mahasiswa yang memakai atribut  Kabupaten / Kotamadya, seperti  :  IPMIL (Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu), IMPS (Ikatan Mahasiswa Pelajar Soppeng), KEPMI (Kerukunan Pelajar Mahasiswa Indonesia) Bone, HIPERMAWA ( Himpanan Pelajar Mahasiswa Wajo ), HPMT (Himpunan Mahasiswa Pelajar Turatea ) Jeneponto, KKMB (Kerukunan Keluarga Mahasiswa Bulukumba), GEMPITA (Gerakan Mahasiswa Pelajar Tana Doang) Selayar, HIPERMAJU (Himpunan Mahasiswa Pelajar Mamuju), GAPPEMBAR (Gabungan Pemuda Pelajar Mahasiswa Barru), dan lain-lain.
Akan tetapi, diluar wilayah Propinsi Sulawesi Selatan, “aspirasi“ generasi pemuda pelajar dan mahasiswa di salurkan hanya pada “satu  bendera“ dengan atribut “Sulawesi Selatan “. Tidak ada lagi warna daerah ( Kabupaten / Kotamadya ), semuanya lebur dalam satu ikatan kekeluargaan, yang berdiri hampir di semua kota-kota besar di seluruh Indonesia, dimana saja generasi muda Sulawesi Selatan berada.
Mengingat bahwa Pulau Jawa merupakan “kiblat” bagi generasi muda intelektual dari seluruh penjuru tanah air untuk mengadu nasib  khususnya guna menuntut ilmu, tidak aneh kalau dari Pulau Jawa-lah lahirnya gagasan dan prakarsa mempersatukan organisasi-organisasi sejenis yang memakai atribut Sulawesi Selatan kedalam satu ikatan yang terorganisasi dengan sistem manajemen profesional.
Seperti terungkap pada awal tulisan ini, di luar wilayah propinsi Sulawesi Selatan kekompakan putera-puteri daerah yang datang dari berbagai latar belakang etnis ternyata dapat terjalin lebih erat. Apakah ia dari etnis Bugis, Makassar, Mandar, Tana Toraja, atau Sub etnis campuran seperti Selayar (sub- etnis Makassar), Palopo (sub-etnis Bugis) Polmas (sub-etnis Mandar-Toraja), Enrekang (sub-etnis Bugis-Toraja) kesemuanya menyatu dalam ikatan kekeluargaan Sulawesi Selatan. Hanya saja, di setiap daerah perantau, setiap “kelompok” Sulawesi Selatan berdiri sendiri-sendiri secara otonom, tidak ada kaitan organisator antara organisasi “Sulawesi Selatan” yang satu dengan organisasi “Sulawesi Selatan” yang lainnya.
Keadaan ini berlangsung sampai tahun 1961, yaitu ketika 8 Organisasi otonom pelajar / mahasiswa “ Sulawesi Selatan” menyatukan kebulatan tekad  membentuk sebuah wadah, yang pada awal kelahirannya masih berbentuk konfederasi, dimana setiap organisasi tetap membawa nama dan otonominya masing-masing.        
Gagasan konfederasi ini disponsori oleh IPMSS Jakarta, IPISS Yogyakarta dan PPSS Bandung, yang berhasil menyelenggarakan pertemuan yang di sebut Musyawarah Besar (MUBES) I bertempat di Ciloto Puncak Jawa Barat, tanggal 28-30 September 1961 yang dihadiri oleh 8 ( delapan ) organisasi pelajar / mahasiswa Sulawesi Selatan, yaitu  :
1. Ikatan Pelajar / Mahasiswa Sulawesi Selatan (IPISS) Yogyakarta
2. Ikatan Pelajar / Mahasiswa Sulawesi Selatan (IPMSS) Jakarta
3. Ikatan Pelajar / Mahasiswa Sulawesi (IPIS) Malang.
4. Ikatan Pelajar / Mahasiswa Sulawesi (IPIS) Bogor.
5. Kontak Pelajar / Mahasiswa Sulawesi (KPS) Semarang.
6. Kesatuan Pelajar / Mahasiwa Sulawesi Selatan (KPSS) Surakarta.
7. Keluarga Pelajar / Mahasiswa Sulawesi Selatan (KPMS) Surabaya.
8. Persatuan Pelajar / Mahasiswa Indonesia Sulawesi Selatan (PPSS) Bandung.
Dalam MUBES I ini disepakati untuk membentuk suatu Badan Musyawarah (konfederasi) dengan nama “ Badan Musyawarah Mahasiswa / Sulawesi Selatan Tenggara    se Jawa “. Sesuai sifatnya merupakan Sekretariat Bersama, maka pucuk pimpinan organisasi dipimpin oleh Sekretaris Jenderal, dimana MUBES I tersebut berhasil memilih  Tadjuddin Latief B.Sc.  Selaku Sekjen. Yang pertama. Sedangkan Tujuan Organisasi dirumuskan : untuk membina Mahasiswa / Pelajar Indonesia menjadi sarjana yang bertakwa dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
Momentum MUBES I inilah yang kemudian di tetapkan sebagai hari lahir IKAMI SUL-SEL, yaitu tanggal 30 September 1961. Organisasi-organisasi mahasiswa / pelajar Indonesia Sulawesi Selatan yang tersebar di seluruh Pulau Jawa yang semula terpisah-pisah dan berjuang sendiri-sendiri, mulai saat itu telah menyatukan komitmen dalam satu landasan perjuangan dan cita-cita.
Sejalan dengan perkembangan jumlah anggota semakin terasa pula meningkatnya berbagai kebutuhan , teristimewa bagi mahasiswa / pelajar diperantauan yang menjadi anggota organisasi yang harus dikelola dan diayomi. Dengan adanya satu wadah urun rembug, sambung rasa dan sambung saran, penyelenggaraan MUBES berikutnya sudah mulai terarah pada kesatuan gerak dan langkah langkah pelaksanaan program program setiap cabang, yang di bawa untuk dikaji dan dicari solusinya. Penyelenggaraan MUBES II / Sidang MPOA I di Bandung tanggal 26 – 31 Agustus 1963, selain dihadiri oleh ke delapan organisasi  Badan Musyawarah di tambah dengan satu anggota baru, yaitu PERMAHIS (Persatuan Mahasiswa / Pelajar Indonesia Sulawesi) Salatiga. Dengan demikian pada MUBES  II tersebut tercatat 9 (Sembilan) organisasi anggota. Ketika itu PPSS Bandung selaku “tuan rumah” ikut menggaet mahasiswa dan pelajar asal Sulawesi Tenggara, dan tampil dengan nama baru : HIPASULSELRA (Himpunan Mahasiswa / Pelajar Sulawesi Selatan Tenggara).
Dalam MUBES II  itu, disepakati penggantian nama federasi menjadi IKOMI SULSELRA (Ikatan Kekeluargaan Organisasi Mahasiswa / Pelajar Sulawesi Selatan Tenggara). Struktur kepengurusan lebih disempurnakan dan mulai mengarah pada bentuk kesatuan namun masih belum meninggalkan sepenuhnya sistem konfederasi. Kepengurusan dikelola oleh sebuah Presidium yang bersifat pimpinan kolektif, dipimpin oleh Ketua Presidium (koordinatif), dan tetap didampingi oleh Sekretaris Jenderal yang sifatnya fungsional. Tegasnya, IKOMI SULSELRA yang terjemahannya-bebas dari akronimnya juga berarti Hanya Engkau, menyatakan penyatuan antara bentuk kesatuan dan bentuk federasi. Dalam MUBES  II ini terpilih Muhjin Hasanuddin sebagai Ketua Presidium dan  A. Rachman Tolleng  sebagai Sekretaris Jenderal.
Menjelang akhir Masa Bakti Pengurus hasil MUBES II, negara dan bangsa kita menghadapi ujian terberat bagi Ideologi Negara Pancasila dengan pecahnya pengkhianatan G30S/PKI. Tahun-tahun tersebut cikal bakal IKAMI SUL- SEL yang merupakan bagian dari organisasi kemasyarakatan pemuda, ikut memperkuat barisan Angkatan ’66 yang menuntut tegaknya keadilan dan kebenaran dibumi tercinta ini. Di saat itu, tampillah tokoh-tokoh mahasiswa / pelajar di barisan terdepan, turun ke arena demonstrasi untuk memperjuangkan TRITURA, yang menjadi tekad perjuangan seluruh angkatan muda tanpa melihat latar belakang masing-masing. Semua merasa terikat dalam satu gerak dan langkah perjuangan untuk menyelamatkan Pancasila dan Negara Proklamasi 1945. Sejarah mencatat, perjuangan “anak-anak” ini ikut menjadi faktor penentu Orde Baru.
Anggota-anggota IKOMI SULSELRA turut menggabungkan diri disemua bagian Kesatuan Aksi bersama-sama angkatan muda Indonesia lainnya sebagai pelopor dan pendobrak tirani dalam upaya menegakkan kebenaran dan keadilan. Namun demikian, detengah-tengah hiruk-pikuknya derap langkah perjuangan, IKOMI SULSELRA masih tetap sempat kembali ke kampus sejenak mengatur langkah agar ayunannya kedepan lebih terarah dan berkonsolidasi. Diadakanlah MUBES III / Sidang MPOA II di Malang pada tanggal 12 – 16 Juli 1966, dimana tokoh-tokoh nasional sempat memberikan amanat, termasuk Presiden Soeharto dan Ketua MPRS Jenderal DR. A.H. Nasution.
Dalam MUBES III dirasa perlu untuk merentangkan lebih luas jaringan organisasi dengan perubahan nama dari IKOMI SULSELRA menjadi IKAMI SULAWESI yang diikuti dengan penyempurnaan bentuk, sifat, maupun struktur organisasi. Dalam arena MUBES III bertambah pula anggota baru, dengan masuknya Ikatan Keluarga Sulawesi (IKS) Jember yang bermaksud melestarikan nama IKOMI sehingga merubah nama organisasi menjadi IKOMI Jember, menyusul perubahan IKOMI SULSELRA menjadi IKAMI SULAWESI. Dengan masuknya IKOMI Jember, maka genaplah 10 (Sepuluh) organisasi yang menggabungkan diri menjadi IKAMI SULAWESI.
Sosok persatuan semakin nampak, dimana pucuk pimpinan tidak lagi berbentuk Presidium, melainkan langsung dipimpin oleh Ketua Umum, yang waktu itu terpilih Drs. A. Mappi Sammeng,  didampingi oleh   M. Arief Wangsa sebagai Sekretaris Jenderal.
Dibawah kepemimpinan Drs. A. Mappi Sammeng dilakukan restrukturisasi organisasi dengan hanya “satu bendera” IKAMI SULAWESI yang dalam derap langkahnya sudah meninggalkan bentuk federasi dengan berbentuk kesatuan yang vertikal secara struktural organisatoris, dengan Pengurus Besar di tingkat Pusat, yang membawahi beberapa Pengurus Cabang. Maka ketika diselenggarakan MUBES IV di Ciawi Bogor tanggal 1 – 4 April 1970, yang hadir bukan lagi utusan organisasi otonom, melainkan 10 ( Sepuluh) Cabang IKAMI SULAWESI yang waktu itu baru terbatas pada yang ada di Pulau Jawa, yakni ;
1. IKAMI SULAWESI Cabang Jakarta;
2. IKAMI SULAWESI Cabang Bandung;
3. IKAMI SULAWESI Cabang Bogor;
4. IKAMI SULAWESI Cabang Yogyakarta;
5. IKAMI SULAWESI Cabang Semarang;
6. IKAMI SULAWESI Cabang Salatiga;
7. IKAMI SULAWESI Cabang Surakarta;
8. IKAMI SULAWESI Cabang Surabaya;
9. IKAMI SULAWESI Cabang Jember,
10.IKAMI SULAWESI Cabang Malang.
Forum MUBES IV memilih Drs. Ec. Ali Adam sebagai Ketua Umum dan  Basenang Saliwangi sebagai Sekretris Jenderal.
Melihat kecenderungan komposisi Cabang, Pengurus dan Anggota dan dengan semakin timbulnya kesadaran berorganisasi dikalangan generasi muda mahasiswa dan pelajar perantauan dari seluruh penjuru tanah air, serta dengan mempertimbangkan berbagai masukan dalam forum MUBES, maka pada MUBES V di Ciawi Bogor tanggal 28 – 31 Desember 1975 dan sidang lanjutan 27 Mei 1976 di Jakarta, forum memutuskan untuk lebih menfokuskan kegiatan pada lingkup yang lebih kecil, yang direfleksikan pada perubahan nama IKAMI SULAWESI menjadi IKAMI SUL-SEL. Dalam konsiderans keputusan perubahan tersebut di tekankan bahwa hal ini semata-mata didorong oleh keinginan luhur dan murni serta meyakini bahwa tujuan organisasi hanya dapat tercapai dengan usaha yang teratur dan penuh tanggung jawab. Untuk pertamakali dalam MUBES V ikut bergabung Cabang dari Luar Jawa, Yakni IKAMI SUL-SEL Cabang Palembang.
Forum MUBES V berhasil memilih Syarifuddin Masselangka sebagai Ketua Umum dan  Alwi Amien  sebagai Sekretaris Jenderal.
Pada MUBES VI yang dilaksanakan pada tanggal 7 – 11 Januari 1982 di Kaliurang Yogyakarta, beberapa pokok persoalan yang selama ini muncul sebagai tantangan organisasi menempatkan acara MUBES sebagai forum pencarian jawaban atas soal tersebut. Disamping itu upaya-upaya guna menserasikan derap langkah organisasi dengan realitas zaman tetap dilakukan. Hal ini dianggap urgen, sebab IKAMI SUL-SEL tidak mungkin hanya menjadi “penonton” terhadap gejala dan fenomena yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.
Pada penyelenggaraan MUBES VI tersebut, Jumlah Cabang IKAMI SUL-SEL berkembang menjadi 12 (Dua Belas), dengan masuknya IKAMI SUL-SEL Cabang Ciputat, yang berdasarkan pertimbangan praktis, massanya cukup besar untuk berdiri sendiri, berdampingan dengan IKAMI SUL-SEL Cabang Jakarta, yang ikut menjadi “pendiri” organisasi ini. Forum MUBES VI berhasil memilih  Azis Taba Pabeta  sebagai Ketua Umum dan  Muhammad Saleh A.F. sebagai Sekretaris Jenderal.
MUBES VII dilaksanakan tanggal 26 – 29 Juli 1984 di Jember Jawa Timur. Thema MUBES  : “Dengan MUBES VII IKAMI SUL-SEL Kita Wujudkan Kesatuan Dalam Kebhinnekaan”. Merupakan refleksi dari cita-cita persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Wawasan Nusantara, betapa pun ada unsur kewilayahan dalam akronim organisasi ini. Hal itu lebih nampak dari booklet yang diterbitkan paska MUBES, yang di  di halaman halaman awal turut memberikan kata sambutan : Gubernur Kepala Daerah Tk. I Sulawesi Selatan  Prof. DR. H.A. Amiruddin  dan Walikota Jember R. HirdjanSoewarso, B.A.
MUBES VII mempercayakan jabatan Ketua Umum kepada  Andi Guntur Sose  dan sebagai Sekretris Jenderal : M. Anwar Andi Baso.
Setelah itu kegiatan organisai hampir “tenggelam”. MUBES yang seharusnya dilaksanakan setiap 3 (Tiga) tahun sekali, tidak terlaksana. Keaktifan Cabang-cabang tidak diimbangi oleh Pengurus Besar. Terjadilah stagnasi/kevakuman kegiatan organisasi tersebut menimbulkan keprihatinan beberapa Cabang mengusulkan penyelenggaraan MUBES luar biasa. Dengan disponsori oleh 4 (Empat) Cabang, yaitu IKAMI SUL-SEL Cabang Jakarta, IKAMI SUL-SEL Cabang Bogor, IKAMI SUL-SEL Cabang Ciputat dan IKAMI SUL-SEL Cabang Bandung, maka diselenggarakan MUBES VIII (Luar Biasa), di Cipayung Bogor Jawa Barat tanggal 23 – 26 Maret 1989. Inilah pertama kalinya dalam sejarah IKAMI SUL-SEL diadakan MUBES dengan status luar biasa. Ketika itu terdapat 21 (Dua Puluh Satu) Cabang IKAMI SUL-SEL yang mendaftarkan diri pada Panitia, tetapi pelaksanaan musyawarah hanya dihadiri 15 (Lima Belas) Cabang. Terpilih sebagai Ketua Umum  : M.Arief Pahlevi Pangerang dan Bustamin Bashir di percayakan memangku jabatan sebagai Sekretaris Jenderal.
“Care Taker”  Pengurus Besar IKAMI SUL-SEL hasil MUBES VIII berhasil menyelenggarakan MUBES IX Ujung Pandang tanggal 19 – 23 September 1992. MUBES ini juga menyertakan acara Sarasehan Nasional yang diselenggarakan sebelum acara MUBES. Hadir dalam Sarasehan tersebut Menteri Pemuda dan Olahraga Ir. Akbar Tanjung,  Menteri Transmigrasi  Soegiarto, didukung oleh seluruh petinggi di daerah termasuk Gubernur Kepala Derah Tingkat I Selawesi Selatan Prof. DR. H. A. Amiruddin. MUBES IX mengukuhkan M. Arief Pahlevi Pangerang sebagai Ketua Umum dan untuk jabatan Sekretaris Jenderal di percayakan kepada Muhammad Yunus.
MUBES X yang diselenggarakan di Samarinda Kalimantan Timur tanggal 19 – 20 November 1995 , didahului dengan Dialog Nasional pada tanggal 17 – 18 November 1995. Rangkaian kedua acara ini berangkat dengan thema : “Pemberdayaan Potensi Sumber Daya Manusia dan Potensi Sumber Daya Alam Kawasan Timur Indonesia (KTI) dalam Mensukseskan PJP II”. Kesuksesan pelaksanaan MUBES ini menghantarkan Wahidah Laomo sebagai Ketua Paniitia Pelaksana MUBES  sukses pula dinobatkan menjadi Ketua Umum IKAMI periode 1995-1998.
Kepemimpinan Wahidah laomo yang awalnya diragukan oleh sebahagian senior IKAMI dengan alasan status “wanita” justru memperkuat eksistensi IKAMI sebagai organisasi kepemudaan yang diperhitungkan dalam proses pembangunan daerah Sulawesi Selatan. Hubungan yang erat antara IKAMI, Pemda Sul-Sel dan tokoh-tokoh masyarakat Sul-Sel yang berdomisili di luar Sul-Sel terekspresi dalam kesuksesan setiap penyelenggaraan kegiatan IKAMI.
MUBES XI pada tanggal 21-24 April 1999 yang diselenggarakan di Jakarta dalam kondisi negara berada pada proses  transisi kepemimpinan nasional, menetapkan sdr. H.M. Suaib Didu sebagai Formateur/Ketua umum periode 1999-2001 dan  Idang Hadijah Farouk sebagai Sekretaris Jendral.
MUBES KE XII di rangkaikan SEMINAR NASIONAL yang diselenggarakan di Bogor, pada tanggal 10-13 Mei 2002 dibuka oleh Bpk. Gubernur Sulawesi Selatan H.Z.B Palaguna. Selanjutnya Seminar Nasional dengan pemakalah Bpk. Prof. Dr. H. Ryaas Rasyid, DR. Ir. M. Said Didu , H.M. Aksa Mahmud, Prof. Drs. H. Anwar Arifin dan wakil dari IPB Bogor. MUBES Ke- XII ini mengukuhkan Abdillah Natsir sebagai Ketua Umum.
Jalan yang dirambah dan di dahului dengan para pen-dahulu kita sudah cukup panjang terentang. Dan jalan yang terbentang di hadapan kita, lebih panjang, rumit dan kompleks, dimana situasi dan kondisi bangsa dan negara kita diperhadapkandengan arus globalisasi dan informasi yang teramat deras. Akan mampukah IKAMI SUL-SEL ikut berperan dalam irama pembangunan yang demikian pesatnya ? Apakah “layar terkembang” pada logo IKAMI SUL-SEL yang telah susah payah diletakkan oleh para pendahulu kita dapat kita lanjutkan melayarkannya menuju pantai harapan dan cita-cita?
nah itu lah artikel yang saya possting semoga bisa bermanfaat ... bagi temen-temen 

Rabu, 17 Oktober 2012

Sejarah dan asal usul tembilahan

 Posting kali ini sejarah dan asal usul TEMBILAHAN, supaya kita bisa mengenal sejarah-sejarah yang ada di indonesia, terutama tempat tinggal kita sendiri



pada zaman dahulu sepasang suami-istri yang berketurunan india atau disebut juga dengan istilah orang tambi. Pasangan suami- istri ini mengembara untuk mencari tempat penghidupan baru. Akhirnya sampailah mereka pada suatu daerah yang belum ada penghuninya. Daerah  itu masih berupa hutan belantara dan di dalamnya banyak ditemukan binatang  buas seperti harimau, ular, buaya, dan lain-lainnya.
    Mengingat letaknya yang strategis yaitu tepi sungai akhirnya mereka memutuskan utnuk menjadikan daerah tersebut sebagai tempat tinggal. Mulailah mereka menebang pohon dan mencari atap nipah, mereka akan mendirikan pondok kecil di tepi sungai. Dengan penuh kesabaran mereka juga merintis hutan belantara untuk dijadikan perkebunan. Tentu saja hasil dari perkebunan tersebut untuk menyambung hidup mereka dan mulailah orang - orang berdatangan untuk membeli hasil kebun tersebut.diantara pembeli itu bahkan ada yang membuat pondok dan tinggal di sana sehingga daerah tempat pasangan Tambi itu tinggal di sana sehingga daerah tempat pasangan Tambi itu tinggal menjadi sebuah perkampungan kecil.
    Melihat orang mulai ramai , timbul keinginan pasangan itu untuk membuka warung kopi , apa lagi pekerjaan sebagai pedangang minuman dan makanan selalu identitas dengan pekerjaan yang dilakukan oleh orang keturunan india.
   Pada suatu malam, di pondok mereka terletak di tepi sungai indragiri , pasangan itu sibuk menyiapkan makanan dan minuman yang akan mereka jual  pada pagi hari. disamping menjual minuman kopi, mereka juga menjual roti khas india yaitu roti canai. Semanjak hari itu pasangan tersebut sibuk dengan warung kopinya. Pada malam hari mereka sibuk menyiapkan roti canai dan paginya sibuk melayani orang  yang membeli.
   minggu- minggu pertama jualan mereka belum lah laris bahkan lebih banyak ruginya. Mereka tidak putus asa. Menurutmereka untung dan rugi dalam berjualan merupakan hal yang biasa terjadi. Kembali lagi mereka menunjukkan keturunan dan keuletan seperti yang mereka tunjukan ketika mereka merintiskan hutan belantara untuk dijadikan perkebunan. Mereka selalu memperbaiki apa yang kurang pada makan dan minuman yang mereka jual.
     Lama kelamaan kerja keras tersbut membuahkan hasil. orang mulai ramai mengunjungi kedai minuman mereka. Perlahan berita mulai menyebar dari mulut ke mulut mengenai kedai Tamibi berikut kelezatan kopi dan roti canainya, sehingga semakin banyaklah orang - orang yang datang dan berbelanja di kedai itu. Umumnya mereka adalah orang yang berlayar dari kerajaan indragiri menuju ke beberapa kampung di sapat dan lainnya. Para pelayar yang datang dari indragiri itu berkata kepada teman- temannya.
    "Moh kita singgah di kedai kopi untuk beristirahat sejenak sebelum menurskan perjalanan."
   "apa nama kedai kopinya?" Tanya yang lain.
   "kedai kopi.   apa ya ? yang ditanya juga bertanya sambil  menggarukkan kepala dan berpikir tentang nama kedai kopi itu. Tiba - tiba orang itu teringat , dulu ketika dia singgah dan minum kopi itu, pasanagan tambi bercerita bahwa mereka orang pertama yang membuka lahan di kampung tersebut.
    Lama kelamaaan  terkenalah kedai kopi yang dibuka pasangan Tambi tersebut dengan kedai kopi tambilahan yang artinya orang pertama membuka lahan di daerah tersebut.
   Tidak jauh perkampungan tersebut ada sebuah kampung tua yang cukup terkenal yang bernama kampung sapat . Dan di kampung inilah tinggal seorang tokoh ulama yang kharismatik yang sangat terkenal kealiman, kebijaksanaan dan kedermawannya. Beliau sering dimintai pendapatnya dalam berbagai hal. Disamping itu, beliau juga sangat ramah  kepada seluruh tamu - tamu - tamu yang datang untuk berjumpa dan berguru kepadanya. Nama ulama tersebut adalahTuan Guru Syekh Abdurrahaman shidiq al - Banjari. Seorang ulama agung yang  memangku jabatan sebagai Muti kesultanan indragiri selama 27 tahun(1326-1354 H/1909-1936)
    Pada suatu hari Tuan Guru dikunjungi oleh pasnagan suami istri Tambi.
Tujuannya ingin minta pendapat tentang daerah yang mereaka diami.Sungguh pun daerah itu sudah inggung untuk memberikan nama yang sesuai.
    Lalu mereka menceritakan hal - ihwalnya dan keadaan kampung yang mereka rintis tersebut. Tuan Guru, namun kampung itu belum mempunyai nam. Mereka bramai dan telah menjadi sebuah kampung yang merekarintis tersebut. Tuan guru mendengarkan dengan penuh perhatian. Lantas beliau menanyakan.
    "Dang sanak apa   terkenal di kampung dang sanak? Lama keduanya memikirkan apa yang terkenal dikampung itu. Setahu mereka kampung itu biasa - biasa aja seperti kampung-kampung lainnya. Kemudian si suami menjawab
       " Setahu kami tidakada kelebihan apa - apa di tempat itu  Tuan guru"
Kemudian ia melanjutkan lagi.
    " Cuma orang - orang sering menyebut kata tambi lahan, Tuan guru . Dan itu juga nama yang diberikan orang - orang untuk kedai kopi kami"
   " Kalau begitu, nama kampung  dang sanak adalah tambilahan "Kata Tuan Guru  dengan arif dan bijaksana. Tuan guru secara tidak langsung telah memberikan penghargaan kepada pasangan  Tambi itu karena dengan kerja keras mereka telah menjadikan kampung tersebut menjadi ramai dikunjungi orang.
    Pasangan suami istri Tambi itubukan main suka citanya mendengar nama kampung yang mereka rintis dengan susah payah itu dengan sebutan Tambilahan.
   Sepanjang perjalan pulang ke kampung, mereka berulang kali menyebut nama Tembilahan.. Dan setiap orang yang mereka temui, mereka katakan Tuan Guru telah memberikan nama untuk kampung mereka  denganbagi orang yang mengunjungi kedai kopi mereka. Dengan bangga pasangan Tambi itu mengatakan Tambilahan. Sejak itu hingga  sekarang terkenalah nama kampung yang sudah dirintis oleh pasangan Tambi dengan Tambilahan atau tembilahan .
   Cerita ini menggambarkan bahwa dalam setiap dituntut kesabaran dan kerja keras . Hanya  orang sabar dan pekerja  keras yang akan mendapat kesuksesan.




karya : Hermansyah , SS,MA.
BUKU : SASTRA LISAN KUMPULAN CERITA  RAKYAT INDRAGIRI HILIR
 PENERBIT PEMERINTAHAN KABUPATEN INDRAGIRI KANTOR KEBUDAYAAN SENI DAN PARIWISATA.

Senin, 15 Oktober 2012

BENTENG terbaru, sejarah berdirinya pon-pes YABID BENTENG

 posting kali ini adalah sejarah berdirinya pon-pes YABID guna untuk mengetahui sejarah sejarah berdirinya pondok pesantren di indonesia  terutama di kec. sungai batang inhil riau..

SEJARAH BERDIRINYA PONDOK PESANTREN YAYASAN BIN DAHAN ADDINIYAH ALISAMIYAH BENTENG KEC. SUNGAI BATANG INHIL RIAU 

inilah gedung pon-pes YABID KEC. SUNGAI BATANG INHIL RIAU.......


PONDO KPESANTREN YAYASAN BIN DAHLAN KEC. SUNGAI BATANG INHIL RIAU, Didirikan atas dasar keinginan pendirinya, K.H.ABDUL RAHIM BIN DAHLAN BIN H. THALIB BI H. ALI BIN H. ADAM BIN H. LACCAK BONE/BUGIS, yang melihat pendidikan agama pada saat itu mengalami kemunduran. hal tersebut diketahui dari pengetahua siswa yang sangat minim terhadap ilmu agama, siswa yang sudah duduk di Madrasah Aliyah tidak mengetahui Suratul Ikhlas dan tidak bisa menulis suratul ikhlas. Padahal jika dibanding dengan zaman sebelumnya, kelas III Madrasah Ibtidaiyah saja sudah pasih dalam mempelajari, memahami dan bahkan sudah hapal suratul ikhlas. Atas dasar itula, maka dengan dukungan bantuan dan kerja keras masyarakat setempat pada tanggal 22 Januari 1996 berdirilah Pondok Pesantren Yayasa Bin Dahlan di Desa Benteng Kec. Reteh dan diresmikan pada tanggal 26 September 1996 yang pada saat itu bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 
Besarnya minat masyarakat sangat berpengaruh terhadap lanjutnya perkembangan Pondok Pesantren Yayasa Bin Dahlan Kec. Sungai Batang yang saat masih tergabung dalam kec. Reteh, dimana jumlah siswa yang mendaftar adalah 140 orang yang terdiri atas 30 siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs),a 20 siswa Madrasah Aliyah (MA) dan 70 siswa Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) dan Raudatul Atfhal (RA) 20 siswa dengan tenaga pengajar berjumlah 20 orang.
Memasuki tahun  ke 15 Pontren Yayasan Bin Dahlan Telah menamatkan 12 Tingkatan Alumni. dan Syukur Alhamudulillah saat telah dilengkapi berbagai sarana prasarana yang permanen dengan Gedung 2 lantai, diantaranya, 
1. Ruang Pimpinan dan Kepala Madrasah
2. Ruang Guru
3. Ruang Perpustakaan
4. Ruang Belajar (12 lokal)
5. Mushallah
6. Asrama Putra dan Putri
7. Ruag TU
8. Ruang Osis
9. Ruang Komputer
10. Dan Berbagai prasarana lainnya

inilah guru-guru yang mengajar di pon-pes YABID beserta pimpinan pondok atau pendiri podok ,,,


inilah suasana saat perpisahan siswa/siswi pon-pes YABID BENTENG KEC. SUNGAI BATANG INHIL RIAU atau kelulusan siswa KELAS 3 madrasa aliyah atau KELAS 3 madrasa tsanawiyah ,,,,...?

Kamis, 11 Oktober 2012

Sejarah Bugis Terlengkap

Sejarah Bugis Terlengkap 

 

Awal Mula

Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayah dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

Perkembangan

Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan)

Masa Kerajaan

Kerajaan Bone

Di daerah Bone terjadi kekacauan selama tujuh generasi, yang kemudian muncul seorang To Manurung yang dikenal Manurungnge ri Matajang. Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue. Manurungnge ri Matajang dikenal juga dengan nama Mata Silompoe. Adapun ade' pitue terdiri dari matoa ta, matoa tibojong, matoa tanete riattang, matoa tanete riawang, matoa macege, matoa ponceng. istilah matoa kemudian menjadi arung. setelah Manurungnge ri Matajang, kerajaan Bone dipimpin oleh putranya yaitu La Ummasa' Petta Panre Bessie. Kemudian kemanakan La Ummasa' anak dari adiknya yang menikah raja Palakka lahirlah La Saliyu Kerrempelua. pada masa Arumpone (gelar raja bone) ketiga ini, secara massif Bone semakin memperluas wilayahnya ke utara, selatan dan barat

Kerajaan Makassar

Di abad ke-12, 13, dan 14 berdiri kerajaan Gowa, Soppeng, Bone, dan Wajo, yang diawali dengan krisis sosial, dimana orang saling memangsa laksana ikan. Kerajaan Makassar (Gowa) kemudian mendirikan kerajaan pendamping, yaitu kerajaan Tallo. Tapi dalam perkembangannya kerajaan kembar ini (Gowa & Tallo) kembali menyatu menjadi kerajaan Makassar (Gowa).

Kerajaan Soppeng

Di saat terjadi kekacauan, di Soppeng muncul dua orang To Manurung. Pertama, seorang wanita yang dikenal dengan nama Manurungnge ri Goarie yang kemudian memerintah Soppeng ri Aja. dan kedua, seorang laki-laki yang bernama La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili yang memerintah di Soppeng ri Lau. Akhirnya dua kerajaan kembar ini menjadi Kerajaaan Soppeng.

Kerajaan Wajo

Sementara kerajaan Wajo berasal dari komune-komune dari berbagai arah yang berkumpul di sekitar danau Lampulungeng yang dipimpin seorang yang memiliki kemampuan supranatural yang disebut puangnge ri lampulung. Sepeninggal beliau, komune tersebut berpindah ke Boli yang dipimpin oleh seseorang yang juga memiliki kemampuan supranatural. Datangnya Lapaukke seorang pangeran dari kerajaan Cina (Pammana) beberapa lama setelahnya, kemudian membangun kerajaan Cinnotabbi. Selama lima generasi, kerajaan ini bubar dan terbentuk Kerajaan Wajo. Kerajaan pra-wajo yakni Cinnongtabi dipimpin oleh masing-masing : La Paukke Arung Cinnotabi I, We Panangngareng Arung Cinnotabi II, We Tenrisui Arung Cinnotabi III, La Patiroi Arung Cinnotabi IV. setelahnya, kedua putranya menjabat sekaligus sebagai Arung Cinnotabi V yakni La Tenribali dan La Tenritippe. Setelah mengalami masa krisis, sisa-sisa pejabat kerajaan Cinnotabi dan rakyatnya bersepakat memilih La Tenribali sebagai raja mereka dan mendirikan kerajaan baru yaitu Wajo. adapun rajanya bergelar Batara Wajo. Wajo dipimpin oleh, La Tenribali Batara Wajo I (bekas arung cinnotabi V), kemudian La Mataesso Batara Wajo II dan La Pateddungi Batara Wajo III. Pada masanya, terjadi lagi krisis bahkan Batara Wajo III dibunuh. kekosongan kekuasaan menyebabkan lahirnya perjanjian La Paddeppa yang berisi hak-hak kemerdekaan Wajo. setelahnya, gelar raja Wajo bukan lagi Batara Wajo akan tetapi Arung Matowa Wajo hingga adanya Negara Kesatuan Republik Indonesia @arm

Konflik antar Kerajaan

Pada abad ke-15 ketika kerajaan Gowa dan Bone mulai menguat, dan Soppeng serta Wajo mulai muncul, maka terjadi konflik perbatasan dalam menguasai dominasi politik dan ekonomi antar kerajaan. Kerajaan Bone memperluas wilayahnya sehingga bertemu dengan wilayah Gowa di Bulukumba. Sementara, di utara, Bone bertemu Luwu di Sungai Walennae. Sedang Wajo, perlahan juga melakukan perluasan wilayah. Sementara Soppeng memperluas ke arah barat sampai di Barru. Perang antara Luwu dan Bone dimenangkan oleh Bone dan merampas payung kerajaan Luwu kemudian mempersaudarakan kerajaan mereka. Sungai Walennae adalah jalur ekonomi dari Danau Tempe dan Danau Sidenreng menuju Teluk Bone. Untuk mempertahankan posisinya, Luwu membangun aliansi dengan Wajo, dengan menyerang beberapa daerah Bone dan Sidenreng. Berikutnya wilayah Luwu semakin tergeser ke utara dan dikuasai Wajo melalui penaklukan ataupun penggabungan. Wajo kemudian bergesek dengan Bone. Invasi Gowa kemudian merebut beberapa daerah Bone serta menaklukkan Wajo dan Soppeng. Untuk menghadapi hegemoni Gowa, Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng membuat aliansi yang disebut "tellumpoccoe".

Penyebaran Islam

Pada awal abad ke-17, datang penyiar agama Islam dari Minangkabau atas perintah Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Mereka adalah Abdul Makmur (Datuk ri Bandang) yang mengislamkan Gowa dan Tallo, Suleiman (Datuk Patimang) menyebarkan Islam di Luwu, dan Nurdin Ariyani (Datuk ri Tiro) yang menyiarkan Islam di Bulukumba.[3]

Kolonialisme Belanda

Pertengahan abad ke-17, terjadi persaingan yang tajam antara Gowa dengan VOC hingga terjadi beberapa kali pertempuran. Sementara Arumpone ditahan di Gowa dan mengakibatkan terjadinya perlawanan yang dipimpin La Tenri Tatta Daeng Serang Arung Palakka. Arung Palakka didukung oleh Turatea, kerajaaan kecil Makassar yang berhianat pada kerajaan Gowa. Sementara Sultan Hasanuddin didukung oleh menantunya La Tenri Lai Tosengngeng Arung Matowa Wajo, Maradia Mandar, dan Datu Luwu. Perang yang dahsyat mengakibatkan banyaknya korban di pihak Gowa & sekutunya. Kekalahan ini mengakibatkan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya yang merugikan kerajaan Gowa. Pernikahan Lapatau dengan putri Datu Luwu, Datu Soppeng, dan Somba Gowa adalah sebuah proses rekonsiliasi atas konflik di jazirah Sulawesi Selatan. Setelah itu tidak adalagi perang yang besar sampai kemudian pada tahun 1905-1906 setelah perlawanan Sultan Husain Karaeng Lembang Parang dan La Pawawoi Karaeng Segeri Arumpone dipadamkan, maka masyarakat Makassar dan Bugis baru bisa betul-betul ditaklukkan Belanda. Kosongnya kepemimpinan lokal mengakibatkan Belanda menerbitkan Korte Veklaring, yaitu perjanjian pendek tentang pengangkatan raja sebagai pemulihan kondisi kerajaan yang sempat lowong setelah penaklukan. Kerajaan tidak lagi berdaulat, tapi hanya sekedar perpanjangan tangan kekuasaaan pemerintah kolonial Hindia Belanda, sampai kemudian muncul Jepang menggeser Belanda hingga berdirinya NKRI.

Masa Kemerdekaan

Para raja-raja di Nusantara mendapat desakan oleh pemerintahan Orde Lama (Soekarno) untuk membubarkan kerajaan mereka dan melebur dalam wadah NKRI. Pada tahun 1950-1960an, Indonesia khususnya Sulawesi Selatan disibukkan dengan pemberontakan. Pemberontakan ini mengakibatkan banyak orang Bugis meninggalkan kampung halamannya. Pada zaman Orde Baru, budaya periferi seperti budaya di Sulawesi benar-benar dipinggirkan sehingga semakin terkikis. Sekarang generasi muda Makassar & Bugis adalah generasi yang lebih banyak mengonsumsi budaya material sebagai akibat modernisasi, kehilangan jati diri akibat pendidikan pola Orde Baru yang meminggirkan budaya mereka. Seiring dengan arus reformasi, munculah wacana pemekaran. Daerah Mandar membentuk propinsi baru yaitu Sulawesi Barat. Kabupaten Luwu terpecah tiga daerah tingkat dua. Sementara banyak kecamatan dan desa/kelurahan juga dimekarkan. Namun sayangnya tanah tidak bertambah luas, malah semakin sempit akibat bertambahnya populasi dan transmigrasi.

Mata Pencaharian

Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.

Perompak

Sejak Perjanjian Bongaya yang menyebabkan jatuhnya Makassar ke tangan kolonial Belanda, orang-orang Bugis dianggap sebagai sekutu bebas pemerintahan Belanda yang berpusat di Batavia. Jasa yang diberikan oleh Arung Palakka, seorang Bugis asal Bone kepada pemerintah Belanda, menyebabkan diperolehnya kebebasan bergerak lebih besar kepada masyarakat Bugis. Namun kebebasan ini disalahagunakan Bugis untuk menjadi perompak yang mengganggu jalur niaga Nusantara bagian timur.
Armada perompak Bugis merambah seluruh Kepulauan Indonesia. Mereka bercokol di dekat Samarinda dan menolong sultan-sultan Kalimantan di pantai barat dalam perang-perang internal mereka. Perompak-perompak ini menyusup ke Kesultanan Johor dan mengancam Belanda di benteng Malaka.[4]

Serdadu Bayaran

Selain sebagai perompak, karena jiwa merantau dan loyalitasnya terhadap persahabatan orang-orang Bugis terkenal sebagai serdadu bayaran. Orang-orang Bugis sebelum konflik terbuka dengan Belanda mereka salah satu serdadu Belanda yang setia. Mereka banyak membantu Belanda, yakni saat pengejaran Trunojoyo di Jawa Timur, penaklukan pedalaman Minangkabau melawan pasukan Paderi, serta membantu orang-orang Eropa ketika melawan Ayuthaya di Thailand.[5] Orang-orang Bugis juga terlibat dalam perebutan kekuasaan dan menjadi serdadu bayaran Kesultanan Johor, ketika terjadi perebutan kekuasaan melawan para pengelana Minangkabau pimpinan Raja Kecil.

Bugis Perantauan

Kepiawaian suku Bugis dalam mengarungi samudra cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun hingga Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang mereka

Penyebab Merantau

Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan.

Bugis di Kalimantan Timur

Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaja, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah Kesultanan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.
Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama di dalam menghadapi musuh.
Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan di dalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).

Bugis di Sumatera dan Semenanjung Malaysia

Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad ke-17, banyak perantau Melayu dan Minangkabau yang menduduki jabatan di kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut serta meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Disini mereka turut terlibat dalam perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di Johor yang merupakan keturunan Makassar.